FENOMENA UNIK UN DAN MASA DEPAN

Ujian Nasional atau lebih sering disebut UN,  adalah fenomena unik yang  meninggalkan kesan pro dan kontra dalam dunia pendidikan. Sebenarnya, UN memiliki sisi positif juga lho, meskipun faktanya masyarakat hanya menyoroti sisi negatifnya. Salah satu sisi positifnya adalah dengan UN kita bisa mengukur kemampuan kita bila dibandingkan dengan siswa-siswa lain se-Indonesia.

Seperti adat turun-temurun setiap tahunnya, menyontek menjadi hal yang biasa dilakukan peserta UN. Bahkan, diperparah dengan menjadikan aksi menyontek sebagai aji pamungkas. Ck ck ck ck…

Menyontek bukanlah suatu usaha yang perlu kita lakukan saat menghadapi ujian. Apalagi untuk menghadapi ujian se-special UN. Seharusnya kita justru bisa menunjukkan jati diri kita, kemampuan kita melalui UN ini. Bukan sebaliknya, melancarkan aksi menyontek ria dengan intensitas yang tinggi. Artinya apa?? Kita tidak percaya pada diri sendiri. Lalu, siapa yang akan percaya kepada kita kalau kita sendiri tidak percaya kepada diri kita, tidak yakin dengan kemampuan kita??

Perlu sebuah usaha yang berawal dari niat untuk be-la-jar. Jika sebuah niat sudah tercipta, maka proses belajar akan terasa ringan untuk dilakukan, seperti yang tercantum dalam ayat Al-Qur’an, yaitu sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Selain itu, kita perlu mencanangkan program “belajar tidak hanya dilakukan saat akan menghadapi ujian” atau nama bekennya adalah SKS alias Sistem Kebut Semalam. Dengan belajar rutin, kita lebih mudah mengingat suatu ilmu tanpa harus menghafal. Tok-cer kan ?

Namun dalam kenyataannya, UN adalah satu-satunya penentu kelulusan seorang pelajar. Hal itulah yang muncul sebagai momok dalam setiap keyakinan pelajar di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bahkan saking dahsyatnya wabah ini, banyak siswa yang stres dan menjadi depresi ketika akan menghadapi UN. Ada pula kejadian, seorang siswa yang terkena serangan jantung sesaat setelah membaca soal UN. Wow, parah!

Mending-mending kalau ada siswa yang mendadak rajin dan selalu memperhatikan pelajaran apapun.  Mengikuti bimbel lah, privatlah, inilah, itulah. Semua dilakukan untuk menghadapi UN. Hahaha, sebegitu hebatnya angin UN berhembus membalikkan arah mata memandang.

Survei membuktikan, tidak semua orang setuju dengan pelaksanaan UN. Orang yang merasa tidak setuju beranggapan bahwa tidak adil jika UN menjadi satu-satunya penentu kelulusan seorang pelajar. Pasalnya, jerih payah seorang pelajar dalam menempuh pendidikan ± 3 tahun,tidak ada artinya apa-apa dan hanya ditentukan oleh hasil UN yang dilaksanakan selama ± 1 minggu. Berarti, nilai raport  yang selama ini dibagikan tiap akhir semester hanya omong kosong belaka di mata kelulusan.

Belum lagi, kualitas hasil UN yang diragukan kebenarannya. Banyaknya pencapaian hasil UN dengan bumbu-bumbu kecurangan inilah, akibat dari anggapan bahwa  UN penentu kelulusan seorang pelajar. Jadi bisa saja, seorang pelajar lulus dengan nilai yang sangat wow, meski kualitas sebenarnya tak sebaik pencapaiannya.

Entah kenapa, pemerintah hobi banget mengeluarkan kebijakan tentang pembaruan peraturan UN tiap tahunnya. Seolah-olah pelajar hanyalah seekor kelinci percobaan. Bayangkan saja, mulai dari soal yang terdiri dari 2 tipe soal, yaitu A dan B yang hanya diacak nomornya hingga tipe soal A dan B yang berbeda sekali soalnya. Menurut saya sebagai seorang pelajar, hal itu terjadi karena ketidakpercayaan pemerintah kepada kita. Ya, tidak percaya karena menurut pengalaman dan kejadian di lapangan, banyak sekali terjadi aksi menyontek  antar peserta UN ketika UN dilaksanakan. Namun, perlu diingat bahwa aksi menyontek masal itu pun terjadi karena pernyataan “UN, satu-satunya penentu kelulusan”. Padahal pernyataan tersebut keluar dari pihak pemerintah. Jadi sebenarnya, semua terjadi karena ulah pemerintah sendiri, yang pada akhirnya juga membuat pemerintah repot sendiri.

Seharusnya, pemerintah juga menyadari bahwa pelajar di Indonesia mempunyai beban yang sangat berat dengan banyaknya jumlah pelajaran yang harus dikuasai. Belum lagi, adanya fakta perbandingan kualitas pendidikan dari 50 negara di dunia, Indonesia menduduki posisi tiga terbawah dalam penguasaan fisika, matematika, biologi, dan bahasa. Bahkan, munculnya penyakit tahunan yang justru menjadi ciri khas UN, stres. Hal ini terjadi karena ketakutan dan keraguan dalam hati peserta UN. Mereka takut, kalau tidak bisa mengerjakan soal atau lupa rumusnya atau kesalahan teknis karena menggunakan LJK (Lembar Jawab Komputer).

Ingatlah, bahwa ketakutan hanya akan menjadi penghalang kita menuju sebuah keberhasilan. Jadi, jika kita menginginkan keberhasilan, kita perlu menghilangkan rasa takut yang mendominasi pikiran kita. Wajar sih, kalau takut. Namun akan menjadi tidak wajar ketika ketakutan itu berlebihan alias lebay. Lain pula dengan ketegangan. Ketegangan pun bisa mempengaruhi peserta UN dalam mengerjakan soal, karena ketegangan bisa membuyarkan konsentrasi sehingga proses pengerjaan soal akan sedikit terhambat.

Kualitas seorang pelajar, tidak bisa hanya dilihat dari nilai UN-nya tetapi, perlu peninjauan nilai kesehariannya, adanya peningkatan maupun tidak. Sekarang tergantung pemerintah, mau menghasilkan pelajar yang berkualitas dengan mental yang berkualitas atau hanya berlabel kualitas tinggi tetapi sebenarnya di bawah kualitas standar?

Jika menginginkan pilihan pertama, seharusnya pemerintah bisa mengambil kebijakan yang lebih baik dari pernyataan “UN, satu-satunya penentu kelulusan.”  Namun, jika menginginkan keadaan yang kedua, maka pemerintah hanya akan menghasilkan penerus-penerus bangsa bermental penipu atau jiwa-jiwa berbahaya yang hanya bisa menempuh jalan pintas menuju keberhasilan tanpa bersusah payah.  (en)

Google
Google Maps
WikipediA
Twitter
Categories: sekolah | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: